Tampilkan postingan dengan label IRC. Tampilkan semua postingan

KIAT KIAT IRC DALAM MEMPERTAHANKAN DOMINASINYA  

Posted by IRC dan Smak2 in



Lebih dari dua dasawarsa posisi IRC tak tergoyahkan sebagai pemimpin pasar ban sepeda motor nasional. Apa saja yang membuatnya begitu digdaya?
“Saya sudah dua kali ganti sepeda motor, dan bannya selalu memakai merek IRC. Selain memang sudah terkenal, kualitas bannya bagus dan relatif kuat. Saya puas memakainya,” celoteh Indra, staf delivery order sebuah resto siap saji terkemuka. Di kalangan pengguna sepeda motor, ban merek IRC tampaknya memang punya brand image kuat.

Penguasaan pasarnya pun dominan. Sejak diproduksi tahun 1981, IRC langsung mencengkeram pasar ban sepeda motor di Tanah Air. Bahkan, tahun 2005 menjadi momen mengesankan bagi IRC. Seiring boom industri sepeda motor di Indonesia, penjualan ban IRC pun terdongkrak. Dari total penjualan ban sepeda motor nasional sekitar 11 juta unit pada 2005, sebanyak 8,4 juta dikontribusi oleh IRC. Dengan angka penjualan itu, menempatkan PT Gajah Tunggal – produsen ban IRC – sebagai produsen ban sepeda motor terbesar ketiga di dunia setelah produsen ban asal Cina dan India. Pada 2006, dominasi pasarnya pun masih kukuh.

Diperkirakan pangsa pasarnya lebih dari 75%. Para pesaingnya, seperti Surya Rubber dan Dunlop, berada jauh di belakangnya. Menurut Harry Kalisaran, GM Pemasaran PT Gajah Tunggal (GT), sejauh ini porsi terbesar penjualan IRC diperoleh dari pasar ritel – istilah khususnya pasar replacement – yakni sebesar 70%; sedangkan sisanya 30% dikontribusi dari pasar pabrikan alias original equipment manufacturer (OEM). Toh, dengan porsi 30% saja dari total penjualannya, menurut klaim Harry, IRC menguasai 70% pasar OEM.

Awalnya, Harry menyebutkan, GT menyuplai 100% ban IRC untuk pabrikan, seperti Honda, Yamaha, Suzuki dan Vespa. Namun, sekarang jumlah pesanan dari OEM ini berkurang, terutama Honda (tinggal 12%-15% ban Honda). Sementara suplai untuk OEM lainnya hanya turun sedikit, seperti: Yamaha sebesar 98% ban dari 3 juta unit yang dibutuhkannya; Suzuki 60%; Kymco 98%; bahkan Kawasaki masih 100%; dan beberapa OEM lainnya.

Klaim Harry setidaknya dibenarkan Dyonisius Beti, Wapresdir PT Yamaha Motor Kencana Indonesia. Menurut pria yang akrab dipanggil Dyon ini, saat ini sebagian besar sepeda motor Yamaha memakai ban IRC – kecuali untuk jenis matik yang memakai ban Dunlop. “Kerja sama dengan IRC sudah lama. Komitmen kerja samanya dibuat setiap satu tahun,” ucap Dyon. Produksi ban IRC untuk Yamaha tentunya mengikuti jumlah demand terhadap motor Yamaha. Dyon mengklaim, selama kurun waktu 2002-2006 permintaan Yamaha tumbuh sampai 426%.

Untuk menopang permintaan pasar, GT membangun pabrik IRC di Tangerang, Banten, dengan volume produksi 40 ribu per hari untuk ban luar. Adapun untuk ban dalam, volume produksinya 70 ribu per hari. Secara keseluruhan, sekitar 80% produksi ban IRC ditujukan untuk jenis motor bebek; 7%-8% untuk skutik; dan sisanya untuk motor sport. Ban IRC ini memiliki kandungan lokal berupa karet alam sekitar 70%; sedangkan sisanya (30%) – yang terdiri dari bahan carbon black, kit wire, dan bahan kimia lainnya – masih diimpor.

Harga yang dipatok GT untuk produk ban IRC, yakni: ban motor bebek dijual di kisaran Rp 50-80 ribu per unit; dan ban motor sport dijual seharga Rp 90-100 ribu per unit. Harga jual yang dibanderol IRC relatif lebih mahal dibandingkan dengan ban-ban sepeda motor merek lainnya.

Faktor kualitas, diklaim Harry, merupakan faktor yang menyebabkan IRC bisa tetap konsisten mendominasi pasar. “Faktor kuncinya adalah kualitas yang prima. Itu yang membuat kami dapat kepercayaan,” ujar Harry membanggakan diri. Toh, klaim Harry itu dibenarkan Dyon. “Kelebihan IRC dibanding vendor lain adalah mampu secara konsisten menyediakan ban sesuai dengan kualitas yang diminta prinsipal Yamaha di Jepang,” kata Dyon memuji.

Selain kualitas, menurut Harry, rahasia sukses IRC juga karena bersedia memenuhi kebutuhan pelanggannya. Untuk OEM langganan, misalnya, IRC tak ubahnya “tukang jahit”. Bayangkan, ketika sebuah OEM hendak meluncurkan sepeda motor baru, biasanya pabrikan ini memesan ban dengan spesifikasi tertentu, seperti pola, komposisi bahan dan ukuran. Saat ini, seperti diklaim Fenton Salim, Manajer Penjualan GT, ban IRC memiliki lebih dari 30 macam pola. Jika dikaitkan dengan ukuran bisa mencapai lebih dari 100 pola. Karenanya, Fenton berani menjamin dibanding para pesaingnya, ban IRC memiliki pola dan ukuran yang paling lengkap. Alhasil, ban IRC bisa menjangkau semua segmen pasar. “Pesaing hanya mengambil segmen tertentu, yakni yang modelnya laku saja; sedangkan kami memasuki semua segmen, baik yang laku maupun kurang laku,” ungkap Fenton.

Untuk menguji kualitasnya, tes produk IRC juga dilakukan GT bersama para pelanggan OEM-nya. ”Tesnya cukup berat karena masing-masing prinsipal berbeda spesifikasinya. Tes pun tidak cukup sekali, setelah di sini mereka membawa ke pusat di Jepang untuk dites lagi. Lalu balik ke sini dites lagi. Terakhir kami lakukan pula road test,” papar Harry. Sudah begitu, produk yang masuk ke OEM pun harus mengikuti standar tertentu. Ban IRC sendiri, diklaim Harry, karena banyak menyuplai OEM Jepang, maka mengikuti standar dari Japan Industrial Standard (JIS), di samping standar global (ISO) dan nasional (SNI).

Faktor lain yang turut menopang dominasi IRC di pasar adalah kekuatan distribusi. Menurut Harry, di tiap kota atau provinsi pihaknya memiliki agen untuk mengoordinasi penjualannya. Saat ini agen penjualan IRC tersebar di 37 titik di seluruh Nusantara. ”Rata-rata semua daerah sudah kami jangkau karena satu distributor jangkauannya kan beberapa kota. Sampai di Papua kami juga ada,” Harry memaparkan. Kepada para agen ini dibebankan target bisa menjual dalam jumlah tertentu, dan kalau terlampaui bakal diberikan reward.

Langkah promosi pun ditempuh IRC. Kegiatan below the line-nya, antara lain mengikuti ajang pameran sepeda motor yang rutin diselenggarakan setiap tahun, serta menyelenggarakan road race dan mensponsori beberapa kejuaraan balap motor. Selain itu, ada pula kegiatan push marketing berupa pemberian hadiah undian kepada toko-toko, serta pemberian penghargaan untuk toko dan bengkel yang mencetak penjualan terbaik di wilayahnya. Di samping itu, langkah promosi above the line dengan cara beriklan secara rutin di media cetak.

Untuk bisa terus menjadi pemimpin pasar, Harry mengatakan, pihaknya akan tetap peduli mengenai masalah mutu produk. Selain itu, inovasi produk pun terus dilakukan, seperti mengembangkan pola dan model baru, ataupun menggunakan komponen baru guna mengikuti kemauan pasar.

Pasar ekspor? Harry mengaku belum punya rencana ke sana. Ia memang menyebutkan IRC masih akan fokus menggarap pasar dalam negeri. Pertimbangan bisnisnya, dibandingkan dengan Thailand, India, Cina dan Vietnam, untuk ban sepeda motor bebek (110 cc) potensi pasar terbesar masih di Indonesia. Pasalnya, di negara-negara yang disebut itu, umumnya sepeda motornya sudah berkapasitas 200 cc. “Jadi kalau kami ingin ekspor pun pasarnya kecil,” Harry menegaskan.

Untuk 2007, Harry berani menargetkan penjualan bakal meningkat 10%-15%. Padahal, sekarang tingkat persaingan tidak lagi sesepi dahulu. Terlebih, ada juga OEM yang memproduksi ban sendiri, seperti Honda yang membuat ban Federal.

Toh, di mata Aziz Pane, Ketua Asosiasi Pengusaha Ban Indonesia, kedigdayaan IRC mendominasi pasar ban sepeda motor di Indonesia sebagai suatu hal yang wajar. Menurut Aziz, IRC merupakan salah satu pelopor ban sepeda motor di Indonesia – di samping Kingstone, Nito, Kingland, Swallow dan Arigamira. Menariknya, dari semua pabrikan ban hanya Sjamsul Nursalim – pemilik GT – yang memang benar-benar berasal dari pengusaha ban. “Sjamsul itu sejak 1960-an sudah membuat ban becak dan menguasai pasar di Jakarta khususnya. Setelah itu, Sjamsul begerak mengembangkan divisi ban motor dan ban mobil. Setahu saya, yang lain itu bukan dari pengusaha ban,” ungkapnya.

Aziz juga menilai IRC memang memiliki beberapa keunggulan dibanding pesaingnya. Antara lain, IRC merupakan ban pertama yang memakai teknologi dari Jepang, sedangkan pemain lainnya memakai teknologi lokal atau Taiwan. Karenanya, lanjut Aziz, selain kualitas ban lebih kuat, model atau desainnya pun lebih up to date. Selain itu, dari segi pemasaran, strategi co-branding-nya dengan beberapa pabrikan motor (OEM), seperti Honda, Yamaha, Suzuki, Kawasaki dan Vespa, dinilainya cukup jitu. “Sejak awal IRC sudah masuk ke OEM. Dan ini menguntungkan sekali buat IRC, karena mayoritas pengguna motor akan meminta replacement ban IRC seperti ban originalnya,” kata Azis.

Cucu Darmawan, GM PT Dunlop Indonesia, mengakui keunggulan historis yang dimiliki IRC. Ia pun menilai wajar, hingga sekarang Dunlop masih tercecer jauh dibanding IRC. Dunlop sendiri masuk Indonesia relatif baru, yakni pada 1997. Di samping relatif baru, lanjut Cucu, selama ini Dunlop juga lebih fokus ke segmen ban mobil. Sebagai gambaran, pada 2005 produksi ban mobil Dunlop sebanyak 12 juta unit, sedangkan produksi ban sepeda motornya hanya 2,5 juta unit – itu pun 15%-nya diekspor. “Dengan posisi market share ketiga, ya sudah cukup bagus,” kata Cucu menghibur diri.

Jadilah untuk sementara ini IRC seperti melenggang sendirian di pasar ban sepeda motor nasional.

IRC RAIH TOP BRAND AWARD  

Posted by IRC dan Smak2 in



Kestabilan pada segala tingkat kecepatan dan lintasan, umur pakai yang panjang dan kenyamanan adalah manfaat yang ditawarkan IRC sebagai bukti kepedulian terhadap penggunanya. Mengutamakan kualitas dan kepedulian terhadap pelanggan mampu menempatkan IRC menjadi merek yang sukses berada di posisi teratas dalam benak pengguna ban motor di Indonesia. Efek domino yang terjadi adalah loyalitas konsumen terhadap ban motor IRC produksi PT Gajah Tunggal Tbk. Faktor-faktor inilah yang menjadi kunci keberhasilan IRC mendapat penghargaan Top Brand Award tiga tahun berturut-turut. Prestasi membanggakan ini selain membuktikan keunggulan IRC, juga menjadi motivasi untuk terus memberikan hanya yang terbaik bagi pengguna ban IRC.

IRC PEDULI HIV AIDS  

Posted by IRC dan Smak2 in



Lebih dari setengah (58% dari 803 ) perusahaan di daerah epidemi HIV/AIDS yang disurvei Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) masih mewajibkan kondisi bebas HIV/AIDS sebagai persyaratan promosi dan rotasi karier.Kepmen No. 68/MEN/ IV/2004 yang ditandatangani Menteri Tenaga Kerja dan Transmigran saat itu, Jacob Nuwawea berisi larangan bagi pengusaha menggunakan tes HIV/AIDS bagi buruh sebagai prasyarat proses rekrutmen atau kelanjutan status pekerja atau buruh dianggap angin lalu. Sementara itu 91% di antaranya tidak mengalokasikan dana tetap untuk mencegah HIV dan AIDS. Hanya sekitar 29% perusahaan menyediakan tes kesehatan rutin bagi pekerjanya, di mana 31% di antaranya memasukkan tes HIV/AIDS.Hal ini terungkap dalam hasil studi ILO bekerjasama dengan lembaga survei PT Taylor Nelson Sofres Indonesia terhadap 803 perusahaan di empat provinsi, yakni DKI Jakarta, Jawa Timur, Kepulauan Riau, dan Papua.Hasil survei tersebut menyebutkan, kebanyakan perusahaan di Indonesia masih menolak merekrut karyawan baru apabila dia diketahui positif mengidap HIV, hanya segelintir perusahaan yang memiliki kebijakan mengenai HIV dan AIDS. “Selain itu ada 50% perusahaan yang melakukan pemutusan hubungan kerja akibat HIV dan AIDS,” papar Programme Officer ILO, Tauvik Muhamad..Survei itu juga menemukan, hanya 10% yang mempunyai kebijakan tertulis tentang HIV dan AIDS. Perusahaan yang menganggap HIV dan AIDS sebagai ancaman mempunyai sejumlah alasan.Alasan tersebut mayoritas terkait dengan soal produktivitas dan tingkat absensi 76%, dampak terhadap rekrutmen dan pelatihan 64%, pengaruh terhadap biaya medis 71%.
Secara umum, sebagian besar perusahaan tidak memberi perhatian memadai terhadap penyakit ini. Papua dan Kepulauan Riau merupakan daerah yang memiliki perhatian besar terhadap dampak HIV dan AIDS.Sebanyak 91% perusahaan tidak mengalokasikan dana tetap untuk pencegahannya. Hanya 29% perusahaan yang menyediakan tes kesehatan rutin bagi pekerjanya.
Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional Nafsiah Mboi dalam diskusi interaktif yang digelar di CafĂ© Pisa, Menteng tersebut menyatakan, banyak perusahaan yang menuntut karyawannya melakukan tes HIV/AIDS.“Padahal penanganan terhadap pekerja yang mengidap dua penyakit ini harus dibedakan,” ujar Nafsiah.
Pasalnya pengidap HIV masih dapat bekerja dengan normal tanpa menunjukkan gejala penyakit. Sedangkan berbagai macam penyakit baru (sindrom) baru muncul pada pengidap yang terjankit sindrom AIDS.Dengan fakta ini pengidap HIV tidak akan menularkan kepada karyawan lain, kecuali melalui hubungan seks atau jarum suntik.
Munculnya berbagai penyakit akan terlihat pada pengidap yang sudah memasuki stadium AIDS, seperti penyakit TB, paru-paru, liver, dan hepatitis.Menurut dia, yang terpenting adalah perusahaan memberi informasi yang tepat agar jangan sampai menularkan penyakitnya, menjaga lingkungan yang bersahabat, sehingga produktivitas tetap terjaga.

Pengidap HIV/AIDS pada usia produktif mencapai 25%, di antaranya dari kalangan pegawai negeri sipil, TNI, maupun karyawan swasta. Mereka perlu mendapat prioritas dalam pencegahan, terutama para pekerja yang ditempatkan terpisah jauh dari keluarganya selama berbulan-bulan.“Biasanya pekerja semacam itu rentan terkena AIDS karena melakukan kegiatan seksual,” lanjut Nafsiah.Pengusaha sadar. Sementara itu pada kesempatan yang sama Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Sofjan Wanandi menambahkan, kesadaran tentang pentingnya penanggulangan HIV/AIDS merupakan tanggung jawab bersama. Perusahaan bisa membantu melakukan sosialisasi melalui program-program pelatihan kepada karyawannya. Sebab dalam kasus HIV/AIDS adalah masalah bersama dan tidak bisa dipecahkan secara parsial.“Kita tahu HIV/AIDS masalah bersama. Jangan sampai dianggap hal biasa, ternyata di kemudian hari sudah terlambat pencegahannya,” katanya.

Namun Sofjan mencoba memandang realitas pada masa krisis global seperti ini, perusahaan lebih mengutamakan keberlangsungan operasional perusahaan. Bisa jadi program seperti penanggulangan AIDS bisa tidak menjadi prioritas, tapi sebenarnya bisa disisipkan di antara program lainnya tanpa menambah beban biaya.
Sementara, Shinta Widjaja-Kamdani bos Sintesa Group yang juga ketua tujuh perusahaan yang bergabung dalam Indonesian Business Coalition on AIDS (IBCA) sejak akhir tahun lalu menyatakan sudah menjalankan kebijakan peduli HIV/AIDS di tempat kerja.Ketujuh perusahaan tersebut adalah Sintesa Group, PT Gajah Tunggal, Sinar Mas Group, Chevron Indo Asia, PT Freeport Indonesia, British Petroleum, dan PT Unilever Indonesia Tbk.

Ketua IBCA Shinta Widjaja-Kamdani.menyatakan sejak akhir tahun 2007, para pengusaha dalam IBCA berjanji tidak akan memecat para pekerja yang terdeteksi positif HIV/AIDS.“Cita-cita IBCA adalah menghentikan penyebaran HIV/AIDS melalui program yang efektif di tempat kerja. Fokus utamanya adalah peningkatan kepedulian, pencegahan, perhatian, dukungan, dan pengobatan bagi semua pekerja,” ujarnya.Untuk merealisasi cita-cita itu, kebijakan yang akan ditempuh IBCA itu antara lain melakukan kebijakan nondiskriminasi terhadap pekerja dengan HIV/AIDS. Tidak ada kewajiban tes HIV/AIDS dalam proses perekrutan.“Perusahaan juga akan membantu pekerja yang positif HIV untuk mendapat akses pengobatan,” kata Shinta, yang mulai aktif di dunia AIDS tahun 1993 dengan mendirikan Yayasan AIDS Indonesia. Shinta mengatakan, AIDS kini sudah menjadi masalah di dunia bisnis sebab penelitian terakhir memperkirakan bahwa di negara berkembang, dengan tingkat infeksi HIV/AIDS cukup tinggi.“Untuk menangani HIV/AIDS di tempat kerja, rata-rata perusahaan harus mengeluarkan 5,9% dari nilai total gaji yang mereka bayarkan,” papar Shinta.

Sementara itu di tempat terpisah, Direktur PT Gadjah Tunggal Catherina Wijaya mengungkapkan, perusahaannya sudah menaruh perhatian khusus pada AIDS sejak tahun 2003.Alasannya, produsen ban itu kini memiliki 10.000 karyawan. Sebanyak 99,6% merupakan pria usia seks produktif dan berisiko. Catherina juga menyatakan, perusahaannya tidak akan memaksakan karyawannya melakukan tes HIV.Kalaupun ada karyawannya yang tertular HIV, dia berjanji tidak akan memecat. Malah dia akan membantu karyawan tersebut memperoleh akses pengobatan.
Kebijakan serupa juga dianut oleh PT Unilever Indonesia. Josef Bataona mengatakan, perusahaannya sudah lama terlibat aktif dalam pencegahan HIV.“Unilever Indonesia tidak mewajibkan calon karyawannya melakukan tes HIV. Selain itu, ada kebijakan yang melarang pemecatan karyawan hanya karena dia terinfeksi HIV,” tegasnya.
Langkah IBCA ternyata menuai hasil positif, per 3 Desember akan masuk 8 anggota baru perusahaan kecil dan menengah. Selain melakukan pelatiha kepada top manajemen, perusahaan besar akan membantu perusahaan kecil/menengah menjalankan program cerdas HIV di tempat kerja.

Melihat kepedulian pengusaha-pengusaha kelas kakap tersebut maka harapan bagi Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) untuk bisa mendapatkan hak menghidupi diri dengan bekerja belumlah padam.

Jaminan Kualitas IRC  

Posted by IRC dan Smak2 in




Sejak tahun 1970 sampai sekarang dipakai pada semua merek sepeda motor di Indonesia sebagai ban orisinil dan paling banyak dipilih oleh pemakai sepeda motor untuk penggantian ban.
Diproduksi oleh PT GAJAH TUNGGAL Tbk dengan teknologi IRC Jepang. Setiap model ban dirancang, diuji dan diproduksi dengan teknologi terkini dan jaminan kualitas.
Terbukti kehandalannya dan unggul dalam pengendalian, keamanan dan kenyamanan, dan sangat ekonomis karena umur pakai yang lebih panjang.
Gunakanlah selalu ban IRC. Mulai dari sepeda motor melaju, anda dapat segera menaklukkan lintasan dengan KEHANDALAN dan KENYAMANAN yang selalu terjamin. Kepuasan akan didapatkan mulai dari putaram pertama sampai habis umur pakainya.

Terbatas Tapi Diminati  

Posted by IRC dan Smak2 in



Ban lokal dan impor dengan kompon spesial untuk kecepatan tinggi beredar di Tanah Air. Apalagi, ajang balap motor nasional menerapkan penggunaan ban lokal sebagai ban resmi. IRC dan FDR jadi merek yang sudah teruji di adut kebut Indonesia. Kedua label kulit bundar sudah dibuktikan di aspal kompetisi.
Kini, beberapa pemain lain bersiap untuk terjun di ban spek racing namun bisa dipergunakan untuk harian. Jika sebelumnya, FDR lebih dulu memperkenalkan dengan Sport MP-XT dan IRC menyusul dengan Razzo 166 dan Razzo 221. Dua merek lokal itu seperti membuka pemain ban lokal untuk saling mengisi kulit bundar dengan kompon spesial. Menyusul kayak Mizzle, Indotire, Maximally Racing, Swallow, dan Corsa.
Spesial untuk Swallow yang memang sudah dua tahun jadi ban resmi grasstrack. DdiminatiPT. Industri Karet Deli, produsen Swallow, mengembangkan lebih baik lagi untuk ban pacul motor garuk tanah. Tak ketinggalan produsen IRC juga akan terjun di balap trek tanah bergelombang.
“Sebentar lagi akan ada ban khusus motocross dari IRC. Sudah dites beberapa crosser. Nanti akan dites untuk Kejurnas Motocross di Jember,” bilang sumber dari PT. Gajah Tunggal, produsen IRC, Tangerang.
Memang semua ban di luar IRC dan FDR belum teruji untuk pasar senggol. “Tapi, kita sudah bikin spesial kompon untuk balap skubek. Sudah beberapa kali dan teruji hasilnya. Cara ini jadi pembuktian untuk calon konsumen,” beber Hendro Purwantoro, Product Development Section Head PT. Indomobil Bhupala, pemasok Indotire dan Veeruber, Jakarta.
Meski diproduksi dan diimpor terbatas, tapi peminatnya tetap spesial. Artinya, ban dengan spesial kompon punya pasar tersendiri. “Menarik pasar ban spesial kompon. Kita rencana mau bikin OMR untuk memperkenalkan ban balap kita,” bilang Freddy Y, Promotion Manager PT. Banteng Pratama Rubber, produsen Mizzle.
Eits, nanti dulu! Ban lokal kita pun sudah diburu sama konsumen luar negeri. “FDR jadi ban resmi kejurnas road race di Filipina tahun ini,” ujar Mahar Mardjono, Promotion Manager PT. Suryaraya Rubberindo Industries, produsen FDR, Cileungsi, Jawa Barat.
“Di Kucing dan Serawak, Malaysia, beberapa tim Cuprix juga pakai ban Indonesia,” jelas Toegiman Foedjiarto CV. Anugerah Agung, importir karet bundar berlabel Maximally Racing, Pontianak, Kalimantan Barat.
Artinya, ada peluang konsumen lebih banyak pilihan untuk ban dengan spesial kompon. Harga terjangkau dari produsen Tanah Air. Bahkan, peminatnya pun datang dari luar negeri!

IRC nomor SATU !  

Posted by IRC dan Smak2 in




Kepadatan lalul lintas di kota – kota besar seperti Jakarta,Surabaya atau daerah sekitarnya tidak perlu dipertanyakan lagi.Ban IRC menjadi saksi nyata diantara banyaknya pengguna kendaraan bemotor yang ada di masyarakat.Pengguna kendaraan bermotor dikalangan masyarakat tidak menyurutkan kewajiban masyarakat untuk memanjakan motor mereka dengan perawatan-perawatan dan onderdil yang bermutu. Onderdil yag bermutu seperti penggunaan ban yang bermutu dapat menjadi alasan yang tepat ban IRC memang no.1dihati masyarakat.Nama IRC yang sudah tertanam sejak dulu dikalangan masyarakat tetap menadi no.1 diantara merk – merk ban yang banyak terdapat dikalangan masyarakat.Meskipun merk – merk ban yang lain banyak ditawarkan kepada measyarakat sangat beragam,tetapi tetap ban IRC no.1 dimasyarakat.Itu terbukti dari banyaknya pengguna kendaraan bermotor yang memakai ban IRC.Menurut Tarmudji(34)pengguna kendaraan bermotor,”ban IRC punya merk dan tahan lama”.Meskipun ditoko-toko penjual ban sangat banyak ditawarkan ban-ban dari berbagai merk,tapi tetap IRC no.1ujar pria kelahiran Majalengka,Jawa Barat.Bapak dari 3 orang anak yang bekerja sebagai tukang ojek ini mengaku sudah sejak pertama kali saat memiliki motor ia menggunakan ban IRC .Ban IRC memang kuat dan tahan lama,itu terbukti dari profesi Tarmudji sebagai tukang ojek yang memang wajib mengantarkan penumpang-penumpang yang banyak ke berbagai tempat.Laba yang didapat dari pekerjaannya tersebut dapat membiayai anaknya sekolah,”kalau gak pake IRC bisa-bisa ganti ban mulu …kapan mau dapat untung yang banyak”ujar pak Mudji (sapaan Tarmudji) .Ban IRC memang no.1 dihati masyarakat.



Tipe Ban  

Posted by IRC dan Smak2 in ,




Benih IRC di Kebon Jeruk!!!  

Posted by IRC dan Smak2 in

Tidak salah jika IRC disebut-sebut sebagi ban yang mempunyai nama di kalangan masyarakat pemakai kenderaan bermotor. Dari hasil penelusuran tim jurnalistik SMAK 2 PENABUR Jakarta, di daerah Kawasan Kebun Jeruk, Jakarta Pusat, pada pekan lalu benar-benar menakjubkan, bahwa ban IRC ibarat jamur di hamparan Kebun Jeruk yang luas.Seperti kita ketahui, bahwa kawasan tersebut adalah pusat bengkel pusat perawatan motor terbesar di Jakarta Pusat, seolah-olah menjadi kawasan IRC. Hal ini terbukti dari banyaknya IRC tire yang bermukim di bengkel-bengkel ataupun took-toko yang ada di kawasan tersebut

Penelusuran tim jurnalistik yang dimulai dari Kebun Jeruk 1 sampai ke Kebun Jeruk 3, menjadi saksi bahwa ban IRC sangat digemari banyak orang. Tumpukan ban dari berbagai merk yang ada di toko-toko kawasan tersebut didominasi oleh ban merk IRC ban merk lain.. Jadi tidak salah apabila di daerah tersebut,ban IRC lebih mendominasi dan menjamur.





Face Us on FACEBOOK!!  

Posted by IRC dan Smak2 in ,


Tour Keliling Pabrik IRC  

Posted by IRC dan Smak2 in ,














































"Hutang" IRC terhadap Bumi Pertiwi  

Posted by IRC dan Smak2 in ,


Alam Indonesia yang terbentang dari sabang sampai merauke, dihuni penduduk yang mempunyai latar belakang budaya, adat istiadat, suku, ras, dan golongan. Penduduk Indonesia yang berjumlah 231.000.000 jiwa ini mencerminkan kebudayaan asli Indonesia.Kita mengetahui bahwa Indonesia merupakan Negara kepulauan yang sejak dulu sudah mengenal transportasi melalui perairan, tetapi transportasi perairan hanya mencakup antar pulau. Pertanyaan dalam pikiran kita adalah bagaimana dengan transportasi darat dari satu tempat ke tempat yang lainnya dengan jarah tempuh yang dekat ?Tentu menggunakan mobil,kereta api, becak, bajaj dan yang sangat banyak kita jumpai adalah sepeda motor.Sepeda motor merupakan alat transportasi yang sangat dominan terhadap alat transportasi darat.Bagaimana tidak?Harga sepeda motor yang relatif terjangkau dan sangat mudah mendapakannya dijadikan alat transportasi darat yang merakyat. Banyaknya penduduk yang mendiami wilayahIndonesia, menjadi hal myang memungkinkan banyaknya jumlah pengguna sepeda motor, maka banyak pula kebutuhan ban yang diperlukan.

Sepeda motor dapat beroperasi dengan baik tidak terlepas dari ketangguhan ban yang digunakan. Memang ban tidak dipkai satu untuk seumur hidup. Paling sedikit, ban harus diganti dalam satu kali setahun. Disamping itu, merk juga memegang peranan penting dalam pemilihan ban. Seperti halnya ban IRC yang sudah teruji ketangguhannya. Dengan alasan itu juga maka ban merk terkemuka IRC harus memproduksi jumlah ban yang tidak sedikit.Permintaan pasar yang sangat melambung menyebabkan perusahaan IRC merasa berhutang terhadap bumi pertiwi.Utang yang ditanggung perusahaan IRC tidak sedikit,yakni 2.000.000 ban lagi yang harus diproduksi agar IRC tidak merasa berhutang terhadap masyarakat Indonesia yang meletakkan kepercayaannya kepada ban IRC sebagai ban alat transportasi sepeda motor.Untuk saat ini produksi perusahaan IRC tidak dapat memenuhi permintaan distributor dari sabang sampai merauke.Permintaan yang setiap tahun melambung tinggi tidak dapat dibendung karena setiap tahun penduduk Indonesia semakin bertambah. Masyarakat hanya berharap agar perusahaan IRC dapat meningkatkan lagi produksinya agar mampu memenuhi kebutuhan akan ban. Dengan demikian,ban IRC tidak menjadi barang langka yang sulit dicari dan perusahaan IRC tidak merasa berhutang terhadap bumi pertiwi kita,karena kepercayaan masyarakat terhadap ban IRC untuk memproduksi ban yang berkualitas tinggilah yang diharapkan oleh pasar.Maka patutlah kita mengacungkan jempol kepada IRC yang sudah menjadi pahlawan dibidang transportasi di Indonesia.

(Vnz)

IRC Goes to School  

Posted by IRC dan Smak2 in ,




Tampaknya IRC tidak hanya puas dengan predikatnya sebagai produsen ban motor nomor satu di Indonesia. IRC merasa perlu melakukan berbagai inovasi baru untuk lebih dekat lagi dengan konsumennya. Salah satu upaya yang dilakukan oleh IRC baru-baru ini adalah dengan mengadakan sebuah acara bertajuk 'IRC Goes to School'. Sesuai dengan judulnya, acara ini melibatkan 58 sekolah se-Jabodetabek, dengan total peserta 300 siswa dan guru.

Dengan mengusung tema 'Another Day with IRC', IRC benar-benar memberikan hari berbeda dengan pengalaman tak terlupakan kepada setiap pesertanya, melalui kunjungan ke pabrik PT. Gajah Tunggal Tbk. yang terletak di kawasan industri Tangerang, 13 November 2009 lalu.

Masing-masing sekolah diwakili oleh 4 orang siswa terpilih, dengan seorang guru sebagai pendamping. Nantinya siswa tersebut akan turut berpartisipasi dalam lomba pembuatan akun Facebook dan blog bertema 'IRC and I'.

Acara ini dibuka dengan sambutan dari Wakil Presiden Direktur PT. Gajak Tunggal Tbk., Buddy Tanasaleh, dan dilanjutkan dengan tur keliling pabrik ban motor IRC. Di dalam pabrik, siswa dan guru diperlihatkan bagaimana proses pembuatan ban motor IRC, lengkap dengan cara pengerjaannya dari awal sampai akhir. Tujuan utama dari tur ini sebenarnya sebagai pembekalan dasar untuk siswa peserta lomba, agar dapat mengetahui lebih banyak informasi tentang IRC, yang nantinya akan sangat berguna dalam kompetisi yang diikuti.

Acara selanjutnya adalah sesi seminar dan workshop yang dibawakan oleh Pakar Marketing dan Motivator, Tanadi Santoso.Topik workshop adalah seputar bagaimana membuat blog yang dapat menarik minat pembaca, tanpa menghilangkan inti dari blog itu sendiri. Diharapkan melalui seminar yang berlangsung selama 2 jam ini, siswa dapat lebih matang dalam hal membuat konsep blog mereka. Kemudian, setelah pengenalan singkat tentang Facebook dan blog, acara ditutup dengan foto bersama. Benar-benar pengalaman yang tak terlupakan bersama IRC! (Av)

IRC Hadir Kembali  

Posted by IRC dan Smak2 in , ,



Kunjungan siswa-siswi SMA se-Jabodetabek ke pabrik IRC yang berada di Jatake, Tangerang merupakan salah satu acara yang dipersembahkan oleh PT. Gajah Tunggal Tbk., dengan tujuan memperkenalkan IRC lebih jauh ke khalayak luas.

Perjalanan keliling pabrik IRC merupakan salah satu upaya terbesar dari PT. Gajah Tunggal Tbk. sendiri, agar siswa-siswi SMA se-Jabodetabek lebih merasa tertantang untuk menghasilkan blog dan Facebook terbaik.

Pabrik di kawasan Jatake tersebut memiliki luas tanah 250 Ha, dengan pembagian 8 perusahaan dan pabrik-pabrik lain dibawah naungan PT.Gajah Tunggal Tbk. Dalam kunjungan itu pulalah, siswa-siwi SMA se-Jakarta beserta guru-guru pendamping mendapatkan kesempatan untuk berkeliling ke wilayah perusahaan dan pabrik PT.Gajah Tunggal Tbk. dengan menggunakan bus. Tak hanya itu, semua peserta juga diperkenankan untuk melihat secara langsung proses pembuatan ban IRC.

Ban IRC dibuat dan dikemas dengan sedemikian rupa sehinnga menghasilkan ban yang berkualitas. Ban dibuat dengan menggunakan teknologi yang canggih dengan pengawasan oleh pekerja-pekerja profesional. Jadi sudah selayaknyalah kualitas ban IRC tidak perlu diragukan lagi.

Pembuatan ban IRC sendiri melalui beberapa tahap yang membutuhkan ekstra ketelitian. Proses adalah hal krusial yang sangat menentukan apakah ban tersebut layak digunakan atau tidak. Untuk itu, IRC tidak pernah lupa melakukan tahap akhir, yaitu tahap kontrol terhadap ban yang sudah diproses.

Setelah melihat langsung proses pembuatan ban, kami juga dipersilahkan menikmati beberapa acara yang tidak kalah menarik, di antaranya pengenalan dan tanya-jawab oleh para sponsorship, yakni PT.Gajah Tunggal Tbk., serta Bank Ganesha dan Binus University. Acara yang juga tak boleh terleawtkan adalah seminar dengan tema "Success and Exellence" yang dibawakan oleh pembicara ternama Bpk. Tanadi Santoso.

Dipenghujung acara, siswa-siswi diperkenalkan dan diberitahukan cara-cara membuat blog dan Facebook, yang disampaikan oleh pembicara dari Binus University. Benar-benar perjalanan dan pengalaman yang sangat berkesan bagi siswa-siswi SMA se-Jabodetabek! Terimakasih IRC!!(Vnz)